Showing posts with label Karyaku. Show all posts
Showing posts with label Karyaku. Show all posts

Sunday, 21 November 2010

Refleksi Idul Adha

Setiap kali kita merayakan Idul Adha, kita kembali diajak untuk flash back kepada kisah perjalanan hidup seorang kekasih Allah, nabiyullah Ibrahim Alaihissalam. Momentum sejarah yang melatarbelakangi hari raya Idul Adha merupakan episode dari perjalanan kehidupan sang kekasih Allah itu. Pada saat itu beliau bermimpi mendapatkan perintah dari Allah untuk menyembelih putranya, Ismail Alaihissalam. Putra yang sangat disayanginya dan menjadi harapannya yang diperoleh setelah penantian panjang. Begitu berat rasanya bagi nabi Ibrahim untuk melaksanakan perintah ini namun keimanan dan kecintaannya kepada Allah mampu mengalahkan perasaan cintanya terhadap anaknya. Nabi Ibrahim pun dengan ikhlas berusaha melaksanakan perintah tersebut terlebih lagi Ismail pun menyambut hangat dengan kesabaran dan kerelaannya turut melaksanakan perintah itu. Hingga akhirnya kemudian Allah mengirimkan domba untuk menggantikan posisi Ismail.

Momen indah yang diabadikan lewat hari raya Idul Adha ini memiliki hikmah yang mendalam mengenai makna cinta sejati bagi manusia. Cinta dan kehidupan adalah dua hal yang tak terpisahkan karena cinta merupakan anugerah kehidupan dari sang pemilik cinta, Ar-Rahman. Cinta berkembang seiring berjalannya kehidupan dan menjadi motivasi bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Itulah sunnatullah dan fitrah yang ditetapkan bagi manusia. Setiap manusia memiliki kencintaan terhadap dunia, berupa harta, wanita, anak-anak dan berbagai atribut keduniaan lainnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran :14).

Telah kita ketahui bahwa kehidupan di dunia hanya sementara bahkan digambarkan di dalam Al Qur'an sebagai permainan belaka. Lihatlah ungkapan Imam Hasal Al Bashri tentang dunia : “Dunia seakan menjelma menjadi permaisuri impian. Tatapan mata tertuju kepadanya, jiwa gandrung terhadapnya, hati takluk dan bertekuk lutut dihadapannya. Padahal, dunia akan menikam dan membunuh siapapun yang mempersuntingnya.”


Maka cinta sejati tentunya bukanlah terletak pada kecintaan kepada dunia yang sifatnya semu dan sementara melainkan terletak pada kecintaan kepada Allah, sang pemilik cinta. Dari-Nya cinta berawal, terus tercurah dan tak ternilai jumlahnya. Cinta yang tak pernah berujung hingga pada kebahagiaan yang abadi di akhirat. Sebagaimana kenikmatan tertinggi di syurga kelak di kala peduduknya diperkenankan bertemu dan menatap Allah secara langsung.

Cinta pada dunia sejatinya merupakan sarana untuk menggapai cinta Allah, cinta yang sejati. Menggapai cinta Allah bukanlah mengabaikan kecintaan kepada dunia karena itu adalah fitrah manusia. Maka nabi dan rasul pun seperti manusia lainnya, menikahi wanita,memiliki keturunan, dan mencari nafkah keluarga bagi mereka. Akan tetapi kecintaan kepada dunia bukanlah segala-galanya bagi mereka karena cinta yang sejati adalah cinta kepada Rabbnya. Mereka jadikan kecintaan kepada dunia sebagai sarana untuk menghambakan diri secara total kepada Allah yang merupakan bukti kesungguhan mereka dalam menggapai cinta Allah.

Sejarah telah mencatat kisah para pendamba cinta sejati dari Allah. Sepanjang hidup, mereka senantiasa menghambakan diri kepada Allah yang merupakan wujud cinta mereka kepada Allah, Telah tercatat pula kisah para pecinta dunia termasuk para penentang nabi dan rasul yang kecintaannya kepada dunia sangat berlebihan bahkan menuhankan dunia. Maka kita pun sama-sama menyaksikan bagaimana kehidupan mereka berujung. Para pecinta dunia tak mendapat sesuatu apa pun bahkan berujung kesengsaraan sementara orang-orang yang senantiasa mendambakan cinta dari Allah akan mendapatkan cinta sejati yang berujung pada kebahagiaan abadi.


Readmore »»

Sunday, 14 November 2010

Belajar dari Burung

Baru menyadari memang di setiap kejadian itu ada pelajaran yang bisa diambil. Kali ini saya kembali mendapat pelajaran, yaitu pelajaran dari kehidupan burung. Semua pasti tahu kalau burung adalah salah satu jenis hewan yang unik karena mempunyai sayap yang membuatnya dapat terbang di udara. Memang sih ada beberapa hewan lain yang juga bisa terbang, seperti beberapa jenis serangga, tetapi kalau kita menyebut hewan yang bisa terbang di udara maka yang muncul di benak kita pasti adalah burung.

Ada apa sebenarnya dengan burung? Pelajaran apa yang bisa diambil darinya? Burung yang terbang menjelajahi angkasa ibarat manusia yang menjalani kehidupan. Pagi hari sang burung mulai keluar dari sarangnya dalam keadaan perut yang kosong. Kemudian burung itu terbang dengan kedua sayapnya menjelajahi angkasa sepangjang hari . Ketika malam tiba, ia pun kembali ke sarangnya dalam keadaan kenyang dan segera beristirahat.

Begitulah kehidupan manusia di dunia ini. Kita terlahir di dunia ini untuk menjalani kehidupan. Masing-masing dari kita telah ditentukan rezekinya dan kita harus berusaha untuk mendapatkannya. Layaknya burung yang terbang dari sarangnya menjelajahi angkasa untuk mengisi perutnya yang lapar. Akan tetapi ada saatnya burung kembali ke sarangnya. Begitu pula dengan kehidupan manusia di dunia ini yang hanya sementara. Ketika tiba masanya, kita akan dikembalikan kepada asal kita yaitu kepada Allah yang menciptakan dan memiliki manusia.

Kehidupan di dunia ini ibarat sebuah perjalanan menuju ke kampung halaman yaitu negeri akhirat. Sepanjang perjalanan ini kita perlu mengumpulkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak sehingga ketika tiba waktunya untuk kembali, kita telah mempunyai bekal yang cukup untuk menjalani kehidupan di negeri akhirat. Bekal itu adalah iman dan amal shaleh yang berbuah ketaqwaan.

Burung dikaruniai sepasang sayap oleh Allah yang dengannya burung dapat terbang menjelajahi angkasa. Tentu kita mengetahui, jika satu bagian saja dari pasangan sayap burung bermasalah, misalnya terluka atau patah, maka burung tak akan mampu terbang dengan baik. Terlebih lagi jika kedua sayap burung itu bermasalah. Tahukah kita, ternyata manusia pun dikaruniakan oleh Allah semacam sepasang sayap dalam menjalani kehidupan ini. Sepasang sayap itu adalah sabar dan syukur. Dengan kedua hal itu, manusia akan dapat menjalani kehidupan dengan baik yang dapat memberikan kebahagiaan dalam hidup. Tanpa keduanya bahkan salah satunya maka kebahagiaan dalam hidup itu mustahil untuk diraih.

Suatu hal yang menarik pula dari kehidupan burung adalah kicauannya. Kicauan ini juga merupakan ciri khas dari burung. Kita semua sepakat, kicauan burung itu indah dan menyenangkan untuk didengar. Terlebih lagi setiap jenis burung, masing-masing mempunyai suara kicauan yang berbeda satu sama lain, bagai warna-warni alam yang menghiasi hidup yang indah ini. Burung itu tidak hanya terbang menjelajahi angkasa tapi sesekali bertengger dan berkicau, menjadi bagian dari indahnya alam. Manusia pun dikaruniai oleh Allah berbagai potensi. Potensi yang bermacam-macam itu yang membuat setiap manusia itu unik. Setiap manusia mempunyai bakat dan kemampuan yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi yang lainnya. Dengan demikian sejatinya hidup bukanlah sekedar rutinitas untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri melainkan sebuah sarana untuk saling berbagi. Itulah yang membuat kehidupan menjadi indah dan membahagiakan.

Readmore »»

Saturday, 30 October 2010

Belajar Menulis Bag. 1

Menulis merupakan kegiatan menuangkan ide dari pikiran ke dalam rangkaian kata-kata penuh makna. Menulis menjadi salah satu sarana komunikasi dalam menyampaikan pesan dan informasi ke orang lain. Seiring perkembangan zaman telah banyak orang yang menggeluti kegiatan ini, dari yang profesional hingga sekedar menyalurkan hobi atau kesenangan saja.

Sesungguhnya menulis merupakan bakat alami yang dimiliki oleh setiap orang sebagai makhluk yang berpikir. Perkembangan dunia maya sebagai dampak dari derasnya arus informasi telah menjadi bukti dari hal tersebut. Situs dan blog sebagai sarana menulis di dunia maya kian bertambah bak jamur di musim hujan. Begitu pula dengan trend jejaring sosial yang berkembang saat ini, disadari atau tidak telah memunculkan banyak penulis baru. Dengan begitu, menulis kini menjadi gaya hidup masyarakat.

Di sisi lain, masih banyak juga orang yang tidak terjun ke dunia tulis-menulis ini karena berbagai macam alasan. Di antara alasan tersebut misalnya karena tidak tahu, tidak punya waktu, atau merasa menulis merupakan kegiatan yang tidak bermanfaat bagi diri mereka. Akhirnya bakat menulis yang ada pada diri mereka jadi sia-sia karena tidak tersalurkan.

Berbagai alasan tersebut sesungguhnya bukanlah penghalang besar yang membuat kita tidak menggeluti kegiatan menulis. Ketika ada di antara kita yang belum juga menulis dan mengatakan “saya tidak tahu caranya”, “saya belum tahu teori ini dan teori itu”, “saya tidak tahu harus memulai dari mana”, maka ketahuilah bahwa modal yang pertama dan utama dalam menulis adalah kemauan. Ketika anda memulai menulis saat pertama kali, saat itulah anda telah menjadi penulis bukan saat anda bisa menghasilkan tulisan dengan berbagai macam teori dan teknik penulisan.

Dengan tidak bermaksud menafikan berbagai macam teori dan teknik penulisan untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas, tetapi pengalaman membuktikan bahwa para penulis itu memulai karirnya dari kemauan mereka untuk memulai menulis sedangkan orang yang terpaku pada teori dan teknik malah cenderung lambat dan pasif dalam menghasilkan tulisan. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh mas Jonru, seorang penulis, tentang kiat menulis, mengungkapkan sebuah rahasia terbesar dalam dunia menulias adalah otak kanan. Otak kanan merupakan bagian dari otak yang merupakan pusat dari kreativitas sedangkan otak kiri lebih fokus kepada teori-teori. Ketika anda ingin membuat sebuah tulisan, mulailah segera dengan menuangkan segala hal yang ada di pikiran anda tanpa harus mempertimbangkan teori dan teknik apa yang harus digunakan dalam menulis. Jika semua tulisan telah selesai dibuat barulah diterapkan teori dan teknik dalam tulisan tersebut. Inilah kerja dari otak kanan yang mendahului otak kiri. Dengan demikian, boleh jadi anda tidak hanya menghasilkan sebuah tulisan tetapi berbagai macam tulisan sesuai dengan aliran ide-ide di kepala anda yang dituangkan melalui rangkaian kata-kata penuh makna.
Ketiadaan waktu bukanlah sebuah hal yang menjadi kendala. Jika kita perhatikan, menulis bukanlah sesuatu kegiatan yang membutuhkan waktu yang banyak. Kita dapat menulis di sela-sela rutinitas kegiatan kita atau dengan menyediakan waktu khusus dengan menyisihkan sedikit dari waktu kita untuk menulis. Saya jadi teringat dengan hadits Rasulullah yang mengungkapkan bahwa amalan yang dicintai Allah adalah amalan yang sedikit namun rutin dilakukan secara terus menerus. Menulis juga dapat mengikuti pola tersebut. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit seperti jarum jam yang mampu berputar ratusan ribu kali per hari karena rutin bergerap tiap detiknya.

Suatu hal juga yang perlu diingat dalam menulis bahkan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan adalah motivasi. Motivasi akan memberikan semangat dan dorongan bagi kita dalam menulis. Salah satu hal yang dapat menjadi motivasi dalam menulis adalah rajin membaca. Jika kita jarang membaca maka hanya ide-ide lama yang terus berputar dalam pikiran kita yang akhirnya menimbulkan kejenuhan berpikir sehingga membuat kita malas menulis. Dengan rajin membaca akan memberikan banyak masukan bagi pikiran kita sehingga banyak pula yang dapat kita tuangkan dalam tulisan kita.

Ternyata menulis itu mudah, menyenangkan dan bermanfaat ya. Begitulah yang terpikir di benak orang-orang yang memutuskan untuk terjun ke dalam dunia kepenulisan termasuk saya yang penulis pemula dan senantiasa belajar menulis ini. Jadi tunggu apa lagi, mulailah menulis dari sekarang bersama kami.

Readmore »»

Sunday, 24 October 2010

Pelajaran Kesabaran dari Pohon

Coba perhatikan pertumbuhan sebatang pohon, mulai dari sebuah benih hingga menjadi sebatang pohon yang besar dan menjulan tinggi. Pertumbuhan itu bukanlah terjadi seketika saja, tetapi sudah menjadi sunnatullah bahwa kejadian yang terjadi di dunia ini membutuhkan sebab dan membutuhkan proses.

Dalam pertumbuhannya, dari sebuah benih hingga menjadi sebatang pohon merupakan sebuah proses yang bahkan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Dalam jangka waktu tersebut, sebuah benih harus menghadapi panas teriknya matahari, dinginnya guyuran air hujan, serta kencangnya terpaan angin.

Begitulah proses itu berjalan. Panasnya terik matahari terkadang begitu menyengat, membuat tanah tempat tumbuhnya mengering. Air hujan terkadang turun begitu deras yang bisa merusak tubuhnya bahkan membuatnya layu. Terpaan angin terkadang begitu kencangnya yang sewaktu-waktu dapat menumbangkannya. Hal ini terus dialami selama proses itu yang terkadang membutuhkan waktu yang lama.


Akan tetapi tahukah kita, segala kejadian dalam proses itulah yang membuat sebuah pohon dapat bertumbuh. Pada panas teriknya matahari ada energi cahaya matahari yang dibutuhkan pohon untuk melakukan fotosintesis. Fotosintesis tersebut menghasilkan zat-zat yang dibutuhkan pohon untuk tumbuh.. Pada hujan itu bukankah ada air yang sangat dibutuhkan oleh pohon untuk tumbuh. Terpaan angin akan membuat batang pohon semakin kokoh dan kuat.


Ketika sebuah benih berhasil melalui segala proses yang terjadi hingga tiba waktunya maka daun-daun pun menghijau, bunga-bunga bermekaran, buahnya kian ranum dengan batang yang kokoh menjulang tinggi serta akar yang kuat menghujam ke tanah. Kini benih itu telah menjadi sebuah pohon yang rerimbunan daunnya senantiasa memberikan kesejukan dan keteduhan bagi lingkungan sekitarnya. Oksigen yang dihasilkannya menopang kehidupan makhluk hidup di sekitarnya. Bunga-bunganya yang bermekaran menjadi sebuah pemandangan yang indah serta buahnya yang ranum siap untuk dipetik dan dinikmati kemanisan dan kelezatannya.


Begitulah perjalanan kehidupan sebatang pohon yang kita dapat mengambil pelajaran padanya. Perjalanan kehidupan sebuah benih hingga menjadi sebuah pohon memberikan pelajaran kepada kita bahwa dalam menjalani kehidupan senantiasa membutuhkan proses. Setiap dari kita tentunya memiliki cita-cita dan harapan. Untuk mencapai hal tersebut dibutuhkan usaha dan waktu. Cita-cita dan harapan itu tidak dicapai begitu saja dalam sekejap. Dalam usaha mencapainya bukanlah suatu hal yang mudah tanpa kendala, bahkan begitu banyak hal yang akan menjadi rintangannya. Inilah sebuah keniscayaan dalam proses tersebut.


Untuk menghadapi itu semua diperlukan kekuatan hidup yang bernama kesabaran. Kesabaran akan membuat kita memandang proses yang terjadi sebagai sebuah ketentuan Allah yang harus dihadapi. Jika itu adalah ketentuan Allah, maka kita akan ridha dengan segala yang terjadi. Rintangan dan kesulitan yang dialami bukanlah sebagai beban yang membuat kita berputus asa lalu berhenti tapi sebuah isyarat kebaikan dari Allah. Dengan kesulitan itu Allah menghendaki adanya perbaikan dan peningkatan bagi diri kita. Bukankah segala kesulitan yang dialami membuat kita bersungguh-sungguh dalam meningkatkan kapasitas diri serta memaksimalkan potensi diri kita untuk melaluinya hingga ketakutan berubah menjadi keberanian, kebodohan menjadi kecerdasan, kemiskinan menjadi kekayaan, kelemahan menjadi kekuatan. Hikmah lain dari kesulitan hidup adalah Allah hendak menyucikan diri kita dengan mengampuni dosa-dosa kita.


Ketika tiba waktu yang ditentukan, apa yang Allah kehendaki tidak akan luput dari kita. Barangsiapa mengharapkan kebaikan dan mengusahakannya maka akan mendapatkan kebaikan itu. Terjadinya kepastian itu hanyalah urusan waktu. Hingga waktunya tiba, harapan itu akan terwujud dan kita akan menikmati buah dari apa yang kita usahakan selama ini. Penghidupan yang baik itu pun terwujud melalui ketenangan dan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan. Kita pun akan terlahir menjadi pribadi-pribadi kuat, melindungi yang lemah, mengajari yang tidak tahu, member I yang membutuhkan, senantiasa menebarkan manfaat bagi sesama.
Betapa beruntungnya kita yang berhasil memaknai proses kehidupan ini. Kita yang mampu memahami dan mengaplikasikan dalam hidup bahwa ujian adalah bagian dari proses kehidupan. Proses yang mengantarkan kita pada kebahagiaan hakiki dengan menjadi manusia yang terbaik yaitu yang memberikan manfaat bagi yang lain.
Readmore »»

Tuesday, 9 March 2010

Kisah Dua Orang Sahabat

Ada dua orang anak yang bersahabat dan bertetangga. Mereka juga sama-sama mempunyai hobi memancing. Tak jauh dari tempat tinggal mereka ada sebuah danau. Di danau itu banyak ikannya sehingga banyak orang yang pergi memancing ke sana. Akan tetapi, tak satupun dari dua anak itu yang pernah memancing ke danau itu.

Untuk pergi ke danau itu mereka harus melewati suatu tempat yang ada anjing galak berkeliaran di sana. Mereka mendengar cerita kalau anjing itu begitu galak, cepat larinya dan sudah banyak orang yang digigitnya. Akhirnya, tidak ada dari mereka yang berani lewat di tempat itu dan tidak ada pula yang sampai ke danau itu. Meskipun demikian, sebenarnya mereka sangat ingin pergi memancing ke danau itu.

Pada suatu ketika, mereka memutuskan untuk pergi memancing ke danau itu. Sesampainya di tempat anjing itu, benar saja anjing itu menyalak kepada mereka dan mengejar mereka. Kedua anak itu pun berlari menghindari kejaran anjing itu namun ternyata anjing itu lebih cepat larinya dan berhasil menggigit salah satu dari anak itu sehingga terluka. Setelah kejadian itu, mereka tidak berani lagi untuk mencoba pergi memancing ke danau itu.

Setelah beberapa waktu kemudian, sahabat dari anak yang dulu digigit anjing agak terkejut melihat sahabatnya yang dulu digigit anjing itu berjalan menuju rumahnya dengan wajah berseri-seri sembari membawa alat pancing dan ember yang di dalamnya ada beberapa ekor ikan. Ia pun bertanya kepada sahabatnya itu, ”habis memancing dari mana? Apakah di danau itu?”. Kemudian sambil tersenyum anak itu menjawab ”tepat sekali”. Dengan herannya sahabat anak itu kembali bertanya ”Kok bisa kamu pergi memancing ke danau itu? Anak itu kembali menjawab pertanyaan sahabatnya, ”Saya dapat pergi memancing ke danau itu karena saya dapat selalu lolos dari kejaran anjing itu. Sejak saya digigit anjing itu, saya sangat takut dan enggan lagi pergi memancing ke danau itu. Akan tetapi kemudian saya berpikir, saya bisa ke danau itu apabila saya dapat selalu lolos dari kejaran anjing itu dan saya hanya perlu berlari lebih cepat dari anjing itu. Saya pun tiap hari berlatih agar saya dapat berlari lebih cepat. Akhirnya pada suatu hari, ketika saya merasa sudah cukup berlatih maka saya mencoba untuk pergi memancing ke danau. Setibanya saya di tempat anjing itu, anjing pun mengejar saya namun saya dapat lolos dari kejaran anjing tersebut dan akhirnya sampai ke danau. Pada kesempatan yang kedua kalinya ke danau itu, saya kembali dapat dikejar oleh anjing itu walaupun akhirnya saya dapat meloloskan diri dari gigitannya. Saya pun menyadari anjing itu pun berlari lebih cepat maka saya tiap harinya terus berlatih untuk senantiasa dapat berlari lebih cepat. Sejak saat itu saya dapat terus lolos dari kejaran anjing itu.

Dalam kehidupan ini, setiap dari diri kita tentunya mempunyai tujuan yang ingin kita capai, harapan yang ingin kita wujudkan, sesuatu yang ingin kita miliki. Akan tetapi dalam menggapai itu semua bukanlah sesuatu hal yang mudah. Kita akan mendapatkan ujian dan menemui berbagai macam rintangan. Ujian dan rintangan itu diilustrasikan sebagai anjing pada cerita di atas. Ujian dan rintangan itu akan senantiasa menghalangi kita dalam mencapai tujuan dan mewujudkan harapan. Kita pun berusaha untuk melewatinya tapi terkadang kita menemui kegagalan dan tak mampu melewatinya. Ada di antara kita yang memutuskan untuk berhenti karena merasa tak sanggup melewatinya. Atau terkadang pula kita tidak mencoba melewatinya sama sekali karena mendengar perkataan dan pandangan orang-orang bahwa kita tidak akan mampu melewatinya tau melhat sudah banyak orang yang gagal melewati ujian dan rintangan tersebut.

Akan tetapi, ada pula di antara kita kembali mencoba melewatinya. Mereka menyadari bahwa sebenarnya mereka bisa melewati ujian dan rintangan itu. Mereka hanya perlu meningkatkan kemapuan, menambah ilmu dan wawasan dan mencoba dengan cara yang lebih baik. Mereka pun menyadari ujian dan rintangan itu kian waktu kian meningkat maka mereka pun harus peka terhadap perubahan itu dengan senantiasa berusaha meningkatkan ilmu, wawasan dan kemampuan mereka. Yakinlah bahwa setiap ujian dan rintangan itu bisa kita lewati karena ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS Al Bagarah : 286)”. Setiap tujuan itu akan dapat dicapai, harapan itu akan dapat diwujudkan dengan keyakinan, ikhtiar dan doa kita.
Readmore »»

Monday, 15 February 2010

Wahai Penuntut Ilmu

Bagi kita yang telah menjadikan menuntut ilmu sebagai sebuah pilihan hidup, apakah itu sekolah, kuliah, maupun bentuk pendidikan yang lainnya, menuntut ilmu telah menjadi bagian dari kehidupan ini. Entah berapa banyak di antara kita yang memilihnya sebagai sebuah kebutuhan. Berapa banyak pula di antara kita yang memilihnya sebagai sebuah rutinitas hidup. Atau berapa banyak di antara kita yang memilihnya sebagai sebuah panggilan hati. Hingga kita pun menjalaninya sesuai dengan tujuan kita masing-masing.

Sejatinya sebagai seorang penuntut ilmu kita harus memahami hakikat sesungguhnya dari menuntut ilmu. Banyak di antara kita yang memahami menuntut ilmu hanya sebatas untuk memperoleh nilai, gelar, status, kedudukan atau sebagai penunjang penghidupan yang layak. Pada akhirnya, aktivitas menuntut ilmu yang kita lakukan hanya sebatas untuk hal itu. Padahal sesungguhnya, hakikat menuntut ilmu itu selaras dengan fitrah manusia yang memiliki nilai yang begitu tinggi dibandingkan dengan hal-hal yang selama ini diinginkan oleh kebanyakan manusia dalam menuntut ilmu.


Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang terbaik di antara makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Manusia dikaruniai oleh Allah tiga hal yang tidak dimiliki sepenuhnya oleh makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Tiga hal tersebut adalah akal, hati dan nafsu yang dikaruniakan sejalan dengan tujuan penciptaan manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.

Dengan demikian, manusia dalam menggunakan ketiga karunia Allah tersebut untuk mengembangkan kehidupannya maka ilmu menjadi sebuah hal yang penting. Sebagai makhluk berakal manusia mempunyai kebutuhan terhadap ilmu. Dalam setiap aktivitasnya tentunya manusia harus memiliki ilmu dalam menjalaninya. Tanpa ilmu niscaya aktivitas-aktivitas itu tidak akan berjalan dengan baik dan akan menimbulkan masalah.

Lebih daripada itu, ilmu dibutuhkan manusia untuk memahami hakikat keberadaannya di dunia ini. Hal itu sesungguhnya merupakan hal yang paling esensial bagi kehidupan manusia. Hanya dengan memahami hakikat keberadaan kita di dunia maka tujuan hidup akan tercapai dan kebahagian hakiki yaitu keselamatan di dunia dan akhirat dapat diraih. Hakikat keberadaan manusia mustahil dipahami apabila tidak dengan ilmu.

Hakikat keberadaan manusia di muka bumi ini adalah sebagai hamba dan khalifahnya. Manusia diciptakan oleh Allah untuk menyembah dan mengabdi kepada Allah, untuk menjadi wakil Allah memelihara dan memakmurkan bumi ini. Inilah fitrah manusia dan manusia akan memperoleh kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Untuk menjalani fitrah ini, manusia diberikan petunjuk oleh Allah, itulah Al Qur’an. Dalam Al Qur’an ada petunjuk untuk mengenal Allah, bagaimana menyembah Allah, perintah dan larangan untuk manusia serta berbagai petunjuk dalam menjalani hidupnya yang pada intinya adalah bagaimana manusia itu dapat menjalani fitrahnya sebagai hamba dan khalifah Allah sehingga manusia dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, hendaknya setiap dari diri kita, para penuntut ilmu yang telah memilih jalan ini, dalam menuntut ilmu dilakukan sesuai dengan hakikat menuntut ilmu yang sejalan dengan fitrah kita. Dengan cara inilah kita akan memperoleh kebahagiaan dan keselamatan hidup yang didambakan oleh setiap manusia. Hal itupun dapat dicapai apabila kita menuntut ilmu dengan menggunakan tiga hal yang telah dikaruniakan oleh Allah, akal, hati dan nafsu dan hatilah yang menjadi pengontrol dan penyeimbang akal dan nafsu.

Betapa banyak fenomena yang terjadi adalah aktifitas menuntut ilmu selama ini telah banyak mengalami penyimpangan dari hakikatnya. Ketika aktifitas menuntut ilmu hanya berdasarkan akal dan nafsu semata tanpa dikontrol oleh hati maka menuntut ilmu hanya dilakukan untuk tujuan-tujuan yang sifatnya duniawi seperti untuk gelar, kedudukan, harta yang pada akhirnya manusia-manusia yang menuntut ilmu dengan cara seperti itu hanya akan mendapatkan sesuatu yang semu sebagaimana dunia ini bersifat fatamorgana belaka. Betapa banyak pula kemudian manusia-manusia ini tidak memperoleh kebahagiaan hidup yang sebenarnya baik itu di dunia apalagi akhirnya memperoleh kesengsaraan di akhirat.

Readmore »»

Demi Masa

Detik-Detik Berharga

Pesan Pejuang Kehidupan

Assalamualaikum. Ahlan Wa Sahlan di Blog Catatan Pejuang Kehidupan. Silahkan Beri Kesan & Pesan. Terima Kasih Atas Kunjungannya

Buku Tamu

Blog Statistic

Follower Blog

Pengunjung Blog