Berbuat baik kepada orang lain ternyata memiliki nilai lebih besar dalam menyumbang kebahagiaan seseorang. Jauh lebih tinggi daripada sekedar banyak harta, banyak pujian dan jabatan yang tinggi. Inilah hasil riset peneliti dari Universitas Rochester, Amerika Serikat.
Mereka telah meneliti 147 orang alumni dari dua perguruan tinggi. Para mahasiswa itu dinilai segi kepuasan hidup mereka, harga diri, perasaan khawatir, tanda-tanda adanya perasaan tertekan (stress) pada raga, serta pengalaman kejiwaan yang baik dan buruk. Penelitian dilakukan dua kali, yakni tahun pertama dan kedua setelah kelulusan.
Para peneliti mengelompokkan pertanyaan menjadi dua bagian. Pertama, yang berhubungan dengan persahabatan yang erat dan langgeng, serta sikap menolong memperbaiki hidup orang lain. Bagian ini disebut aspirasi intrinsik atau cita-cita yang bersumber dari dalam diri. Pengelompokan kedua berkaitan dengan keinginan menjadi seorang yang kaya dan mendapatkan pujian. Bagian terakhir ini digolongkan ke dalam aspirasi ekstrinsik,, yakni cita-cita yang bersumber dari luar. Para peserta diminta menilai kedua jenis cita-cita tersebut. Mereka juga melaporkan sejauh mana mereka telah meraih tujuan itu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa cita-cita intrinsik lebih membuat orang bahagia daripada ekstrinsik. Dengan mencapai tujuan instrinsik, mereka telah memenuhi kebutuhan dasar kejiwaan. Artinya, menjadi sukses dan kaya, di satu siisi ternyata tak banyak membawa kebahagiaan dan tidak memberikan kepuasan hati. Bahkan usaha menggapai ’kenikmatan duniawi’ ini dapat menimbulkan rasa malu, marah, gelisah, sampai gangguan raga seperti sakit kepala, sakit perut, dan kehilangan tenaga.
Pencapaian tujuan hidup intrinsik berdampak lebih baik bagi kesehatan jiwa. Sedangkan pencapaian cita-cita ekstrinsik merupakan pertanda terjangkiti penyakit kejiwaan atau adanya ketidakbahagiaan.
Cita-cita intrinsik yang berupa hubungan antar manusia yang dilandasi cinta kasih dan kepedulian, serta dimilikinya keahlian dan keterampilan melalui perjuangan berat, memiliki manfaat yang terasa langgeng. Sebaliknya cita-cita ekstrinsik berupa menumpuk harta dan pujian, dirasakan cepat memudar dan segera terlupakan.
Orang-orang yang memiliki tujuan hidup intrinsik, yakni menaruh perhatian pada berkembangnya pribadi, eratnya hubungan antar manusia, keterlibatan dalam kegiatan masyarakat, dan kesehatan raga, lebih merasakan adanya kesejahteraan, prasangka baik terhadap diri mereka sendiri, pertalian yang lebih erat dengan sesama, dan lebih sedikit memiliki tanda-tanda stress pada tubuh mereka.
Dunia dan isinya bukanlah sesuatu yang kekal. Manusia hendaknya lebih mengutamakan amal baik karena inilah yang telah terbukti secara ilmiah dapat memberikan kebahagiaan dalam hidup, sebagaimana pula diperintahkan Pencipta. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an : ”Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air, hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (QS Al Kahfi 18 : 45-46)
Dikutip dari : Majalah Ar-Risalah Edisi 104 Vol IX No. 8 Safar-Rabiul Awal 1431 H / Februari 2010
Bagi kita yang telah menjadikan menuntut ilmu sebagai sebuah pilihan hidup, apakah itu sekolah, kuliah, maupun bentuk pendidikan yang lainnya, menuntut ilmu telah menjadi bagian dari kehidupan ini. Entah berapa banyak di antara kita yang memilihnya sebagai sebuah kebutuhan. Berapa banyak pula di antara kita yang memilihnya sebagai sebuah rutinitas hidup. Atau berapa banyak di antara kita yang memilihnya sebagai sebuah panggilan hati. Hingga kita pun menjalaninya sesuai dengan tujuan kita masing-masing.
Sejatinya sebagai seorang penuntut ilmu kita harus memahami hakikat sesungguhnya dari menuntut ilmu. Banyak di antara kita yang memahami menuntut ilmu hanya sebatas untuk memperoleh nilai, gelar, status, kedudukan atau sebagai penunjang penghidupan yang layak. Pada akhirnya, aktivitas menuntut ilmu yang kita lakukan hanya sebatas untuk hal itu. Padahal sesungguhnya, hakikat menuntut ilmu itu selaras dengan fitrah manusia yang memiliki nilai yang begitu tinggi dibandingkan dengan hal-hal yang selama ini diinginkan oleh kebanyakan manusia dalam menuntut ilmu.
Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang terbaik di antara makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Manusia dikaruniai oleh Allah tiga hal yang tidak dimiliki sepenuhnya oleh makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Tiga hal tersebut adalah akal, hati dan nafsu yang dikaruniakan sejalan dengan tujuan penciptaan manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
Dengan demikian, manusia dalam menggunakan ketiga karunia Allah tersebut untuk mengembangkan kehidupannya maka ilmu menjadi sebuah hal yang penting. Sebagai makhluk berakal manusia mempunyai kebutuhan terhadap ilmu. Dalam setiap aktivitasnya tentunya manusia harus memiliki ilmu dalam menjalaninya. Tanpa ilmu niscaya aktivitas-aktivitas itu tidak akan berjalan dengan baik dan akan menimbulkan masalah.
Lebih daripada itu, ilmu dibutuhkan manusia untuk memahami hakikat keberadaannya di dunia ini. Hal itu sesungguhnya merupakan hal yang paling esensial bagi kehidupan manusia. Hanya dengan memahami hakikat keberadaan kita di dunia maka tujuan hidup akan tercapai dan kebahagian hakiki yaitu keselamatan di dunia dan akhirat dapat diraih. Hakikat keberadaan manusia mustahil dipahami apabila tidak dengan ilmu.
Hakikat keberadaan manusia di muka bumi ini adalah sebagai hamba dan khalifahnya. Manusia diciptakan oleh Allah untuk menyembah dan mengabdi kepada Allah, untuk menjadi wakil Allah memelihara dan memakmurkan bumi ini. Inilah fitrah manusia dan manusia akan memperoleh kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Untuk menjalani fitrah ini, manusia diberikan petunjuk oleh Allah, itulah Al Qur’an. Dalam Al Qur’an ada petunjuk untuk mengenal Allah, bagaimana menyembah Allah, perintah dan larangan untuk manusia serta berbagai petunjuk dalam menjalani hidupnya yang pada intinya adalah bagaimana manusia itu dapat menjalani fitrahnya sebagai hamba dan khalifah Allah sehingga manusia dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Oleh karena itu, hendaknya setiap dari diri kita, para penuntut ilmu yang telah memilih jalan ini, dalam menuntut ilmu dilakukan sesuai dengan hakikat menuntut ilmu yang sejalan dengan fitrah kita. Dengan cara inilah kita akan memperoleh kebahagiaan dan keselamatan hidup yang didambakan oleh setiap manusia. Hal itupun dapat dicapai apabila kita menuntut ilmu dengan menggunakan tiga hal yang telah dikaruniakan oleh Allah, akal, hati dan nafsu dan hatilah yang menjadi pengontrol dan penyeimbang akal dan nafsu.
Betapa banyak fenomena yang terjadi adalah aktifitas menuntut ilmu selama ini telah banyak mengalami penyimpangan dari hakikatnya. Ketika aktifitas menuntut ilmu hanya berdasarkan akal dan nafsu semata tanpa dikontrol oleh hati maka menuntut ilmu hanya dilakukan untuk tujuan-tujuan yang sifatnya duniawi seperti untuk gelar, kedudukan, harta yang pada akhirnya manusia-manusia yang menuntut ilmu dengan cara seperti itu hanya akan mendapatkan sesuatu yang semu sebagaimana dunia ini bersifat fatamorgana belaka. Betapa banyak pula kemudian manusia-manusia ini tidak memperoleh kebahagiaan hidup yang sebenarnya baik itu di dunia apalagi akhirnya memperoleh kesengsaraan di akhirat.
Pernahkah Anda melihat dan mengamati akar pohon beringin (ficus). Lihatlah bagaimana bentuk dan penjalaran akar beringin. Akar beringin selalu menyesuaikan dengan bentuk dan ukuran batang dan bentuk cabangnya. Bila cabang menjulur condong ke selatan, maka akar beingin akar ikut tumbuh ke selatan. Selain itu, bentuk dan arah akar beringin berfungsi untuk menopang berat pohon bagian atas. Cengkaraman akar yang menonjol di permukaan tanah ini bukti kuat bahwa pohon beringin akan kokoh menghadapi tantangan lingkungan yang akan bisa menumbangkannya.
Hampir semua orang mengatakan, beringin mampu tumbuh di atas batu. Batu yang keras atau bukit berbatu malah menjadi tempat yang nyaman bagi beringin untuk tumbuh. Sungguh menakjubkan karena batu sama sekali bukan tempat yang cocok bagi hampir semua makhluk hidup untuk tumbuh dan berkembang biak.
Rahasia mengapa pohon beringin dapat tumbuh di atas batu adalah kemampuan akarnya mencengkram, menelusup, melunakkan dan menjadikan batu menjadi tanah. Batu yang dianggap sebagai penghambat tumbuhnya pohon, bagi beringin merupakan tantangan untuk bisa bertahan dan berkembang. Maka lihatlah betapa menakjubkan bentuk akar beringin yang menjalar dan menembus batu. Akar beringin mencari air dengan menembus celah-celah batu hingga bisa menembus bagian luar batu.
Bukit batu yang tadinya tampak gersang dan kering kerontang mulai menghijau. Lambat laun air mulai menetes dari celah-celah batu dan lumut pun mulai tumbuh. Beringin dengan akarnya yang khas telah menjadikan kawasan gunung berbatu sebagai kawasan sumber air. Luar biasa.
Sahabat, beringin mengajarkan pada manusia untuk tidak menyerah pada lingkungan yang keras, terbatas bahkan menyakitkan. Sekecil apapun peluang, modal dan penyokong hidup yang kita miliki harusnya menjadi pemicu untuk tetap tumbuh. Celah-celah kecil peluang yang ada harus kita manfaatkan sehingga mampu menembus kokohnya halangan atau rintangan hidup.
Namun, bila kesuksesan mulai berkembang dan menjulang, jangan melupakan pijakan dan cengkraman diri agar tidak tumbang oleh tantangan luar. Sebab makin membesar dan menjulang prestasi serta karir kita, terpaan ujian akan maikin keras. Maka sesuaikan berkembangnya kesuksesan kita dengan pondasi dan cengkraman iman yang juga kuat.
Maka keindahan bentuk pondasi hidup yang menjalar dan mencengkram kuat di “batu” d kita akan meneteskan manfaat berupa kejernihan “air” dan kesegaran “udara” manfaat bagi banyak orang.
By Achmad Siddik Thoha siddikthoha@yahoo.com Group Facebook Komunitas Bisa
Seperti biasa, matahari terbit di waktu pagi lalu terbenam di senja hari, dan sehari pun berlalu, namun ada pertanyaan baru yang patut untuk kita renungi, “Apa yang kita kerjakan untuk mengisi hari itu?” Berapa banyak hari yang berlalu, berapa banyak umur telah kita lewati, namun sedikit di antara kita yang menghitung diri, menjinakkan nafsu dengan cambuk muhasabah. Bahkan kebanyakan manusia membiarkan hari-harinya lewat, sedangkan dia tenggelam di dalam lautan kelalaian dan gelombang panjang angan-angan. Ketika fajar menyingsing, banyak manusia yang menyambut hari mereka dengan niat yang tidak lurus. Setelah sehari terlewatkan, ketika malam menjelang, mereka kembali menuju kasur-kasur mereka dengan niat yang tiada beda pula. Seorang bijak ditanya, "Dengan niat apakah seseorang bangun dari tempat tidurnya? Maka dia menjawab, "Jangan kau tanya tentang bangunnya dulu, sehingga diketahui bagaimana dia itu tidur. Barangsiapa yang tidak tahu bagaimana dia tidur, maka tidak tahu bagaimana dia bangun."
Wahai saudaraku, perhatikan matahari yang terbit dan tenggelam. Sudahkah kau renungkan harimu yang kau lalui? Tanyakan! Apa yang sudah kupersembahkan untuk kebaikan, apa kah yang kuperbuat ini untuk menyam-but hari-hariku? Amat banyak manusia yang tidak memiliki perhatian terhadap berlalunya waktu, padahal nafasmu wahai anak Adam, adalah sesuatu yang dihitung dan tertulis.
“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada tertulis. Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun". (al-Kahfi : 49)
Dan juga firman-Nya, artinya,
“Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-peker-jaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan” (al-Infithar:10-12)
Nafas-nafas terhitung, amal-amal tertulis! Andaikan orang-orang yang lalai mau memikirkan ini semua, tentu mereka akan hati-hati terhadap diri mereka dan akan manahan diri dari jalan yang menyimpang. Namun amat sedikit manusia yang mandapat taufik, dan amat sedikit di antara mereka yang mau mengetahui jalan yang lurus. Seorang bijak berkata, "Ketika pagi hari, maka selayaknya seseorang berniat untuk empat hal: Pertama melaksanakan apa yang diwajibkan Allah atasnya; Kedua, menjauhi apa saja yang Dia larang; Ketiga berlaku adil antara dirinya dengan orang lain yang ada hubungan muamalah; Keempat memperbaiki hubungan (ishlah) dengan orang yang memusuhinya. Jika dia menyongsong pagi dengan niat-niat ini, maka aku berharap dia termasuk orang shalih yang beruntung." Wahai Saudaraku! Untaian kalimat di atas memuat berbagai macam pintu kebaikan, maka orang yang melakukan- nya berarti telah mendapatkan taufiq dan bimbingan untuk meniti jalan yang benar. Marilah kita renungkan, mari kita pikirkan, apakah diri kita termasuk orang-yang demikian? Jika jawabannya "iya" maka banyak-banyaklah memuji Allah Ta'ala dan mohonlah tambahan dari keutamaan-Nya dan ketetapan hati untuk menetapi hal itu. Jika jawabannya "tidak" atau "belum", maka lihat dan koreksi kembali diri kita sebelum hilang seluruh kesempatan. Bersegera lah memperbaiki segala urusan, mohon kepada Allah taufiq untuk dapat menempuh jalan kesuksesan.
Janganlah anda keluar dari rumah di pagi hari, kecuali untuk sesuatu kebaikan yang diridhai oleh Tuhanmu. Sungguh merugi, sungguh celaka mereka yang melewati hari-harinya dengan sia-sia, bukan dengan mela-kukan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Ketika matahari bersinar di siang hari, mereka melewati dengan kemak-siatan dan ketika dia terbenam, mereka mengakhiri hari itu dengan kemaksiatan pula. Hari kita adalah umur kita, jika telah lewat sehari, maka semakin dekat jalan kematian yang akan kita tuju. Dan bila maut benar-benar telah datang, maka habis sudah-harimu itu. Muhammad bin Wasi' Rahimahullaah pernah ditanya, "Bagaimana anda di pagi hari ini?” Maka beliau mejawab, "Apa pendapatmu tentang seseorang yang akan berjalan menuju akhirat setiap hari satu perjalanan?”
Dawud ath-Tha'i Rahimahullaah juga mengata- kan, "Malam dan siang tak lain hanya sekedar perjalanan yang pasti dilewati oleh seluruh manusia, sehingga hari-hari itu habis mereka lewati sampai akhir perjalanan. Jika engkau mampu menyiapkan bekal pada setiap harinya untuk perjalanan yang akan datang (akhirat), maka lakukan itu. Karena terputusnya perjalanan sudah dekat, sedang urusan lebih cepat dari itu. Berbekallah untuk perjalananmu, dan selesaikan urusan yang dapat kau selesaikan, seakan-akan urusan itu selalu mengagetkanmu.”
Demikianlah orang sholeh mema-hami betapa berartinya waktu dan umur. Mereka berusaha sekuat tenaga menghabiskan hari-harinya di dalam ketaatan kepada Allah. Maka sepantas-nya setiap orang yang berakal meng-hitung dirinya, lalu mengarahkannya menuju jalan ketaatan. Demikian setiap hari ketika menyambut pagi hari yang baru. Ketika menuju pembaring-an di malam hari hendaknya mengu-lang lagi muhasabah itu dan terus bertanya kepada diri sendiri. Al-Mawardi Rahimahullaah memberitahukan kepada kita, bagaimana cara melakukan muhasabah; Yaitu dengan melihat kembali pada waktu malam, lembaran yang telah dilewati sepanjang siang hari, karena waktu malam lebih dapat mengingat apa yang terlintas dalam benak, lebih berkonsentrasi dalam berfikir. Jika yang telah dilalui adalah terpuji, maka biarkan dia lewat, lalu ikuti dengan yang serupa dan sebanding dengannya. Jika merupakan perbuatan tercela, maka susul dengan kebaikan jika mungkin, dan berhentilah dari perbuatan seperti itu di hari yang akan datang.” Ibnu Umar Radhiallaahu anhu ketika beliau ketinggalan shalat berjama'ah suatu malam, kemudian terlambat shalat Maghrib pada suatu petang, sehingga bintang-bintang sudah tampak, maka beliau menebus dengan memerdekakan dua budak. Telah berkata Sa'id bin Jubair, "Seluruh hari yang dilalui oleh seorang mukmin adalah harta rampasan!” Dan itu benar, bahwa seluruh hari-hari kita adalah ghanimah karena merupakan kesempatan emas untuk berbekal dengan kebaikan, menumpuk berbagai amal shaleh, kesempatan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. Namun sangat sedikit orang yang mau memahami dan mengambil manfaat dari hari-hari mereka. Anda akan melihat sebagian besar manusia terlena berjam-jam dalam setiap hari. Mereka bahkan terlena pada sebagian besar hari-hari yang begitu banyak. Maka berlalu hari demi hari, umur pun semakin habis sedang mereka tetap dalam kelalaian. Dunia dan segala angan-angan telah membuat mereka terbuai. Kemewahan dan kemegahan menghalangi mereka dari jalan yang lurus. Syaitan terus mengu-lur kan tali angan-angan yang penjang tanpa batas, Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman, artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (QS. 47:25)
Berkata al-Hasan al Bashri, "Syai-tan menghiasi di mata mereka berbagai macam dosa, lalu mengulur-ulur mereka di dalam angan-angan yang panjang." Berkata pula Al Hafizh Ibnu Hajar, "Panjang angan-angan akan melahirkan rasa malas mengerjakan ketaatan, menunda-nunda taubat, cinta dunia, melupakan akhirat serta kerasnya hati. Karena kelembutan dan kebeningan hati, hanya akan diraih dengan meng-ingat mati, kubur, pahala, siksa serta huru hara di Hari Kiamat sebagaimana difirmankan Allah Subhannahu wa Ta'ala, artinya :
“Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras.” (QS. 57:16)
Manusia yang berakal adalah dia yang menjadikan dunia ini sebagai ladang untuk akhirat, menanam dan menyirami dengan berbagai amal shaleh agar dapat memetik buahnya kelak di akhirat. Hari di mana manusia tidak mendapatkan apa-apa kecuali apa yang telah diperbuatnya berupa kebaikan maupun keburukan.
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, artinya, “Segera kalian susul dengan amal berbagai fitnah yang seperti potongan malam yang gulita. Seseorang beriman di pagi hari lalu kafir di sore hari, atau beriman di sore hari dan menjadi kafir di pagi hari.”
Wahai saudaraku, apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambut suatu hari, dimana engkau sendirian di dalam kubur. Apakah selama ini engkau termasuk orang yang terlena dengan angan-angan yang panjang atau kah termasuk orang yang menggunakan bashirah (pandangan yang jernih) yang beramal untuk hari esok ?
Maka segeralah berintrospeksi, menghitung diri, karena dunia adalah Darul Ghurur (tempat yang memper-daya), pasti akan ditinggalkan. Tidak ada yang terlena, kecuali orang jahil. Untuk itu perhatikan kiat-kiatnya sbb :
Ketika pagi mulailah hari dengan berdzikir kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala, sebagai mana diajarkan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam, serta jangan lupa membaca do’a pagi hari.
Sambutlah hari itu dengan niat yang benar, berazam melakukan ketaatan, menjauhi segala maksiat serta memohon kepada Allah taufik dalam jalan yang diridhai.
Jangan melupakan dzikir kepada Allah dan jangan biarkan hari berlalu tanpa ada dzikrullah.
Kerjakan shalat fardhu lima waktu, di mana pun anda berada.
Tahanlah tanganmu dari mengganggu sesama muslim, sayangi orang yang lemah dan ajari mereka yang tidak tahu.
Tersenyum di hadapan saudara sesama muslim adalah shadaqah.
Berilah nasihat kepada sesama muslim, jangan biarkan mereka terjerumus dalam dosa.
Senang jika sesama muslim mendapatkan kebaikan, sebagaimana anda senang jika mendapatkannya.
Jangan sepelekan perbuatan baik walau hanya perkara kecil dalam pandangan anda.
Jika ada kesempatan bertaqarrub kepada Allah, maka jangan sia-siakan.
Bergegaslah mengumpulkan kebaikan sebagaimana anda senang jika harta anda terkumpul.
Jauhilah perkara-perkara syubhat, selamatkan agama anda dari segala yang merusaknya.
Jauhkan diri anda dari segala bentuk kemaksiatan, atau segala sesuatu yang mengantarkan kepadanya.
Jadikan seluruh niat anda adalah untuk kebaikan, amal shaleh dan menjauhi segala yang haram. Karena barangsiapa berniat dengan kebaikan, maka dia mendapatkan pahala kebaikan itu.
Pintu kebaikan amatlah banyak tak berbilang. Apa yang tersebut di atas hanya sebagai pengingat saja. Orang yang menjadikan hari-harinya penuh dengan kebahagiaan , kebaikan dan ketaatan, maka dialah orang yang telah mendapatkan taufik. Wallahu a’lam.
Sumber: Buku “Kaifa Tastaqbil Yaumak”, Azhari Ahmad Mahmud, Dar Ibn Khuzaimah, Riyadh.(Ibnu Djawari)
Seorang hamba Allah yang menjalani hidup ini sebagai seorang pejuang dan pembelajar. Putra Makassar yang sekarang sedang menjalani pendidikan di FKM Universitas Hasanuddin