Wednesday, 8 September 2010

Ramadhan dan Harapan


Setelah sekian lama untuk kesekian kalinya vakum menulis dan nge blog, di penghujung bulan Ramadhan ini, akhirnya kembali dapat kesempatan untuk membuat tulisan. Semoga tulisan ini bisa menjadi awal yang baik untuk memotivasi saya kembali aktif membuat tulisan. Tulisan saya kali ini berjudul “Ramadhan dan Harapan”.

Bagi umat Islam, bulan Ramadhan merupakan bulan yang dinanti-nanti kedatangannya. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang dijadikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai bulan yang paling mulia dan memiliki banyak keutamaan yang membuat setiap muslim senantiasa mengharapkan untuk dipertemukan dengan bulan ini. Setiap bulan Ramadhan itu datang, memberikan warna dan pesona tersendiri dalam kehidupan yang kita jalani selama setahun. Hal yang paling terasa tentunya ada pada suasana religius dan spiritual. Hari-hari di bulan Ramadhan diisi dengan berbagai macam ibadah yang secara kuantitas maupun kualitas memiliki nilai yang lebih tinggi daripada bulan-bulan lainnya. Siangnya dijalani dengan ibadah puasa dan malamnya diisi dengan shalat malam (qiyamul lail) serta berbagai macam amal ibadah lainnya. Tidak hanya dari aspek spiritual tapi hampir di setiap aspek kehidupan, Ramadhan memberikan pesona tersendiri. Misalnya dari aspek sosial, suasana kebersamaan itu pun semakin terasa pada saat buka puasa tiba. Hal itu juga terasa ketika kita yang memiliki kelebihan harta bersedekah kepada orang-orang yang kekurangan, pemandangan yang juga kita sering jumpai di bulan Ramadhan.

Kedatangan bulan Ramadhan selalu memberikan harapan bagi orang-orang yang menantikannya. Setiap orang masing-masing memiliki harapan tersendiri akan bulan Ramadhan. Maka setiap orang akan menjalani bulan Ramadhan sesuai dengan harapannya masing-masing akan bulan Ramadhan. Anak-anak sorak sorai bergembira, bisa bermain bersama teman-teman dengan riang di mesjid. Dalam keluarga kebersamaan itu semakin terasa ketika sahur dan berbuka bersama. Begitu pula di masyarakat, ketika shalat tarawih bersama di mesjid-mesjid. Umat Islam, ramai-ramai memperbanyak ibadah, setiap mesjid hampir semuanya dipenuhi jamaah. Pengurus mesjid berusaha melaksanakan tanggung jawabnya memberikan pelayanan maksimal kepada para jamaah. Dakwah islamiyah dari para ulama dan da’i menjadi penyejuk dan penyegar serta penawar dahaga rohani yang haus dan kering selama ini. Kaum dhuafa pun turut bergembira karena saat inilah orang-orang yang punya kelebihan harta lebih banyak yang menyedekahkan hartanya untuk mereka. Suatu hal yang juga menarik di bulan Ramadhan ini adalah aktifitas ekonomi masyarakat yang meningkat, membanjirnya pedagang musiman dan meningkatnya pengeluaran belanja dari masyarakat.

Akan tetapi jika kita mencoba mencermati bahwa Allah dalam menurunkan perintah berpuasa di bulan Ramadhan memberikan sebuah harapan. Hal ini dapat kita lihat di penghujung surah Al Baqarah ayat 183, “agar kamu bertaqwa”. Sinyal-sinyal harapan dari Allah ini hanya dapat ditangkap dan diterima oleh hati manusia sebagai receiver yang di dalamnya terdapat software keimanan yang berfungsi dengan baik sebagaimana dalam ayat yang sama yang diseru oleh Allah untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah orang-orang yang beriman. Taqwa merupakan buah dari keimanan yang senantiasa dipupuk dengan ilmu dan amal shalih yang senantiasa disuplai dengan rasa cinta, rasa takut dan pengharapan kepada Allah. Hal ini menempatkan orang-orang yang bertaqwa sebagai golongan orang-orang yang termulia di sisi Allah. Dengan demikian, pribadi mukmin yang lahir dari keislaman yang sempurna akan senantiasa mengharapkan untuk dapat mencapai predikat taqwa ini dalam setiap langkah kehidupan yang dijalaninya khususnya melalui ibadah puasa di bulan Ramadhan.



Melihat fenomena yang terjadi pada bulan Ramadhan, ada begitu banyak harapan dan begitu beragam cara kita dalam menjalani bulan Ramadhan ini, saya kembali teringat dengan sebuah hadits, hadits pertama dari kumpulan Hadits Arbain karya Imam Nawawi : Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya)” (HR Bukhari). Setiap orang akan mendapatkan hasil dari amal perbuatannya dari niatnya sedangkan niat itu sendiri muncul dari pengharapan. Kita bisa mengambil beberapa contoh sederhana, dari beberapa orang kaya yang bersedekah di bulan Ramadhan misalnya ada diantaranya menyumbang di mesjid kemudian dengan ekspresi wajah menuntut kepada panitia mesjid untuk namanya wajib diumumkan sebagai penyumbang, pakai speaker luar supaya semua masyarakat bisa mengetahuinya, tapi ada juga yang tidak ingin disebutkan namanya dan mengatasnamakan sebagai hamba Allah. Sebuah contoh lagi, diantara para da’i yang diundang membawakan ceramah di mesjid misalnya ada yang orientasinya hanya untuk mengumpulkan amplop.

Setiap orang akan memperoleh hasil dari ibadah puasa yang dijalaninya di bulan Ramadhan. Boleh jadi anak-anak bisa bergembira bermain di mesjid, orang-orang kaya akan semakin terkenal dan terpuji di masyarakat, para dai juga semakin terkenal dan banyak memperoleh penghasilan tambahan, banyak pujian bagi orang-orang yang jadi rajin beribadah, kaum dhuafa banyak mendapatkan sumbangan, para pedagang mendapatkan keuntungan yang besar. Akan tetapi siapakah di antara kita yang betul-betul memperoleh keutamaan bulan Ramadhan?

Bagi seorang mukmin, momentum bulan suci Ramadhan memberikan sebuah harapan akan betapa rahmat Allah itu Maha Luas. Sejatinya harapan ini muncul bukan hanya sesaat dengan datangnya bulan Ramadhan saja tapi itu terbentuk dari perjalanan kehidupan seorang muslim. Perjalanan itu ibarat sebuah aliran sungai yang berhulu dari pribadi hamba dengan rasa cinta, takut dan harap kepada Allah kemudian berakhir dan bermuara pada pribadi taqwa. Dari harapan inilah muncul tekad yang kuat sehingga menjadi dorongan untuk berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan ibadah puasa itu.

Momentum Ramadhan merefleksikan perjalanan hidup manusia di dunia dan seakan menjadi miniatur kehidupan. Setidaknya ada beberapa hal yang merefleksikan hal tersebut yang menjadi bahan renungan kita bersama. Sebagaimana momentum ramadhan yang memberikan harapan, kehidupan manusia setiap waktu berjalan dan digerakkan oleh harapan-harapan manusia itu sendiri. Akan begitu banyak harapan yang muncul tetapi kita dapat membagi harapan-harapan itu bisa kita bagi menjadi dua, yaitu harapan manusia akan kehidupan dunia dan harapan manusia akan kehidupan akhirat.

Sebagai seorang mukmin yang memahami hakikat perjalanan kehidupannya, bahwa hidupnya di dunia bagaikan rangkaian dari sebuah perjalanan menuju suatu tempat itulah kehidupan akhirat. Bagai suatu tempat persinggahan,ada saatnya mendatangi tempat ini namun ada saatnya kelak akan meninggalkan tempat ini pula. Tempat persinggahan ini hanya sekedar tempat untuk mengumpulkan bekal agar dapat sampai ke tempat tujuan.

Dengan demikian perjalanan hidup seorang mukmin digerakkan oleh harapan akan rahmat Allah berupa kebahagiaan abadi di akhirat yang kemudiaan menjadi ukuran keduniaannya adalah taqwa. Seorang mukmin dengan sepenuh iman dan kesungguhan berusaha mewujudkan harapannya. Upaya itu dalam hal agar senantiasa dapat istiqomah/konsisten dalam keimanan serta dapat senantiasa berkarya dan berkontribusi melalui amal shalih yang tercermin melalui perbaikan hidup secara berkesinambungan, hari esok lebih baik dari hari kemarin, menuju kepada pencapaian kesempurnaan hidup di dunia, itulah taqwa agar dapat sampai kepada tujuan perjalanan hidup yang hakiki, itulah kehidupan akhirat. Hanya bagi orang-rang yang senantiasa berharap dan bersungguh-sungguh yang akan mendapatkan yang diharapkannya.

Readmore »»

Tuesday, 9 March 2010

Kisah Dua Orang Sahabat

Ada dua orang anak yang bersahabat dan bertetangga. Mereka juga sama-sama mempunyai hobi memancing. Tak jauh dari tempat tinggal mereka ada sebuah danau. Di danau itu banyak ikannya sehingga banyak orang yang pergi memancing ke sana. Akan tetapi, tak satupun dari dua anak itu yang pernah memancing ke danau itu.

Untuk pergi ke danau itu mereka harus melewati suatu tempat yang ada anjing galak berkeliaran di sana. Mereka mendengar cerita kalau anjing itu begitu galak, cepat larinya dan sudah banyak orang yang digigitnya. Akhirnya, tidak ada dari mereka yang berani lewat di tempat itu dan tidak ada pula yang sampai ke danau itu. Meskipun demikian, sebenarnya mereka sangat ingin pergi memancing ke danau itu.

Pada suatu ketika, mereka memutuskan untuk pergi memancing ke danau itu. Sesampainya di tempat anjing itu, benar saja anjing itu menyalak kepada mereka dan mengejar mereka. Kedua anak itu pun berlari menghindari kejaran anjing itu namun ternyata anjing itu lebih cepat larinya dan berhasil menggigit salah satu dari anak itu sehingga terluka. Setelah kejadian itu, mereka tidak berani lagi untuk mencoba pergi memancing ke danau itu.

Setelah beberapa waktu kemudian, sahabat dari anak yang dulu digigit anjing agak terkejut melihat sahabatnya yang dulu digigit anjing itu berjalan menuju rumahnya dengan wajah berseri-seri sembari membawa alat pancing dan ember yang di dalamnya ada beberapa ekor ikan. Ia pun bertanya kepada sahabatnya itu, ”habis memancing dari mana? Apakah di danau itu?”. Kemudian sambil tersenyum anak itu menjawab ”tepat sekali”. Dengan herannya sahabat anak itu kembali bertanya ”Kok bisa kamu pergi memancing ke danau itu? Anak itu kembali menjawab pertanyaan sahabatnya, ”Saya dapat pergi memancing ke danau itu karena saya dapat selalu lolos dari kejaran anjing itu. Sejak saya digigit anjing itu, saya sangat takut dan enggan lagi pergi memancing ke danau itu. Akan tetapi kemudian saya berpikir, saya bisa ke danau itu apabila saya dapat selalu lolos dari kejaran anjing itu dan saya hanya perlu berlari lebih cepat dari anjing itu. Saya pun tiap hari berlatih agar saya dapat berlari lebih cepat. Akhirnya pada suatu hari, ketika saya merasa sudah cukup berlatih maka saya mencoba untuk pergi memancing ke danau. Setibanya saya di tempat anjing itu, anjing pun mengejar saya namun saya dapat lolos dari kejaran anjing tersebut dan akhirnya sampai ke danau. Pada kesempatan yang kedua kalinya ke danau itu, saya kembali dapat dikejar oleh anjing itu walaupun akhirnya saya dapat meloloskan diri dari gigitannya. Saya pun menyadari anjing itu pun berlari lebih cepat maka saya tiap harinya terus berlatih untuk senantiasa dapat berlari lebih cepat. Sejak saat itu saya dapat terus lolos dari kejaran anjing itu.

Dalam kehidupan ini, setiap dari diri kita tentunya mempunyai tujuan yang ingin kita capai, harapan yang ingin kita wujudkan, sesuatu yang ingin kita miliki. Akan tetapi dalam menggapai itu semua bukanlah sesuatu hal yang mudah. Kita akan mendapatkan ujian dan menemui berbagai macam rintangan. Ujian dan rintangan itu diilustrasikan sebagai anjing pada cerita di atas. Ujian dan rintangan itu akan senantiasa menghalangi kita dalam mencapai tujuan dan mewujudkan harapan. Kita pun berusaha untuk melewatinya tapi terkadang kita menemui kegagalan dan tak mampu melewatinya. Ada di antara kita yang memutuskan untuk berhenti karena merasa tak sanggup melewatinya. Atau terkadang pula kita tidak mencoba melewatinya sama sekali karena mendengar perkataan dan pandangan orang-orang bahwa kita tidak akan mampu melewatinya tau melhat sudah banyak orang yang gagal melewati ujian dan rintangan tersebut.

Akan tetapi, ada pula di antara kita kembali mencoba melewatinya. Mereka menyadari bahwa sebenarnya mereka bisa melewati ujian dan rintangan itu. Mereka hanya perlu meningkatkan kemapuan, menambah ilmu dan wawasan dan mencoba dengan cara yang lebih baik. Mereka pun menyadari ujian dan rintangan itu kian waktu kian meningkat maka mereka pun harus peka terhadap perubahan itu dengan senantiasa berusaha meningkatkan ilmu, wawasan dan kemampuan mereka. Yakinlah bahwa setiap ujian dan rintangan itu bisa kita lewati karena ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (QS Al Bagarah : 286)”. Setiap tujuan itu akan dapat dicapai, harapan itu akan dapat diwujudkan dengan keyakinan, ikhtiar dan doa kita.
Readmore »»

Thursday, 25 February 2010

Bahagia dengan Berbuat Baik

Berbuat baik kepada orang lain ternyata memiliki nilai lebih besar dalam menyumbang kebahagiaan seseorang. Jauh lebih tinggi daripada sekedar banyak harta, banyak pujian dan jabatan yang tinggi. Inilah hasil riset peneliti dari Universitas Rochester, Amerika Serikat.

Mereka telah meneliti 147 orang alumni dari dua perguruan tinggi. Para mahasiswa itu dinilai segi kepuasan hidup mereka, harga diri, perasaan khawatir, tanda-tanda adanya perasaan tertekan (stress) pada raga, serta pengalaman kejiwaan yang baik dan buruk. Penelitian dilakukan dua kali, yakni tahun pertama dan kedua setelah kelulusan.

Para peneliti mengelompokkan pertanyaan menjadi dua bagian. Pertama, yang berhubungan dengan persahabatan yang erat dan langgeng, serta sikap menolong memperbaiki hidup orang lain. Bagian ini disebut aspirasi intrinsik atau cita-cita yang bersumber dari dalam diri. Pengelompokan kedua berkaitan dengan keinginan menjadi seorang yang kaya dan mendapatkan pujian. Bagian terakhir ini digolongkan ke dalam aspirasi ekstrinsik,, yakni cita-cita yang bersumber dari luar. Para peserta diminta menilai kedua jenis cita-cita tersebut. Mereka juga melaporkan sejauh mana mereka telah meraih tujuan itu.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa cita-cita intrinsik lebih membuat orang bahagia daripada ekstrinsik. Dengan mencapai tujuan instrinsik, mereka telah memenuhi kebutuhan dasar kejiwaan. Artinya, menjadi sukses dan kaya, di satu siisi ternyata tak banyak membawa kebahagiaan dan tidak memberikan kepuasan hati. Bahkan usaha menggapai ’kenikmatan duniawi’ ini dapat menimbulkan rasa malu, marah, gelisah, sampai gangguan raga seperti sakit kepala, sakit perut, dan kehilangan tenaga.

Pencapaian tujuan hidup intrinsik berdampak lebih baik bagi kesehatan jiwa. Sedangkan pencapaian cita-cita ekstrinsik merupakan pertanda terjangkiti penyakit kejiwaan atau adanya ketidakbahagiaan.

Cita-cita intrinsik yang berupa hubungan antar manusia yang dilandasi cinta kasih dan kepedulian, serta dimilikinya keahlian dan keterampilan melalui perjuangan berat, memiliki manfaat yang terasa langgeng. Sebaliknya cita-cita ekstrinsik berupa menumpuk harta dan pujian, dirasakan cepat memudar dan segera terlupakan.

Orang-orang yang memiliki tujuan hidup intrinsik, yakni menaruh perhatian pada berkembangnya pribadi, eratnya hubungan antar manusia, keterlibatan dalam kegiatan masyarakat, dan kesehatan raga, lebih merasakan adanya kesejahteraan, prasangka baik terhadap diri mereka sendiri, pertalian yang lebih erat dengan sesama, dan lebih sedikit memiliki tanda-tanda stress pada tubuh mereka.

Dunia dan isinya bukanlah sesuatu yang kekal. Manusia hendaknya lebih mengutamakan amal baik karena inilah yang telah terbukti secara ilmiah dapat memberikan kebahagiaan dalam hidup, sebagaimana pula diperintahkan Pencipta.
Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an :
Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air, hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (QS Al Kahfi 18 : 45-46)

Dikutip dari :
Majalah Ar-Risalah Edisi 104 Vol IX No. 8 Safar-Rabiul Awal 1431 H / Februari 2010
Readmore »»

Monday, 15 February 2010

Wahai Penuntut Ilmu

Bagi kita yang telah menjadikan menuntut ilmu sebagai sebuah pilihan hidup, apakah itu sekolah, kuliah, maupun bentuk pendidikan yang lainnya, menuntut ilmu telah menjadi bagian dari kehidupan ini. Entah berapa banyak di antara kita yang memilihnya sebagai sebuah kebutuhan. Berapa banyak pula di antara kita yang memilihnya sebagai sebuah rutinitas hidup. Atau berapa banyak di antara kita yang memilihnya sebagai sebuah panggilan hati. Hingga kita pun menjalaninya sesuai dengan tujuan kita masing-masing.

Sejatinya sebagai seorang penuntut ilmu kita harus memahami hakikat sesungguhnya dari menuntut ilmu. Banyak di antara kita yang memahami menuntut ilmu hanya sebatas untuk memperoleh nilai, gelar, status, kedudukan atau sebagai penunjang penghidupan yang layak. Pada akhirnya, aktivitas menuntut ilmu yang kita lakukan hanya sebatas untuk hal itu. Padahal sesungguhnya, hakikat menuntut ilmu itu selaras dengan fitrah manusia yang memiliki nilai yang begitu tinggi dibandingkan dengan hal-hal yang selama ini diinginkan oleh kebanyakan manusia dalam menuntut ilmu.


Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang terbaik di antara makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Manusia dikaruniai oleh Allah tiga hal yang tidak dimiliki sepenuhnya oleh makhluk ciptaan Allah yang lainnya. Tiga hal tersebut adalah akal, hati dan nafsu yang dikaruniakan sejalan dengan tujuan penciptaan manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.

Dengan demikian, manusia dalam menggunakan ketiga karunia Allah tersebut untuk mengembangkan kehidupannya maka ilmu menjadi sebuah hal yang penting. Sebagai makhluk berakal manusia mempunyai kebutuhan terhadap ilmu. Dalam setiap aktivitasnya tentunya manusia harus memiliki ilmu dalam menjalaninya. Tanpa ilmu niscaya aktivitas-aktivitas itu tidak akan berjalan dengan baik dan akan menimbulkan masalah.

Lebih daripada itu, ilmu dibutuhkan manusia untuk memahami hakikat keberadaannya di dunia ini. Hal itu sesungguhnya merupakan hal yang paling esensial bagi kehidupan manusia. Hanya dengan memahami hakikat keberadaan kita di dunia maka tujuan hidup akan tercapai dan kebahagian hakiki yaitu keselamatan di dunia dan akhirat dapat diraih. Hakikat keberadaan manusia mustahil dipahami apabila tidak dengan ilmu.

Hakikat keberadaan manusia di muka bumi ini adalah sebagai hamba dan khalifahnya. Manusia diciptakan oleh Allah untuk menyembah dan mengabdi kepada Allah, untuk menjadi wakil Allah memelihara dan memakmurkan bumi ini. Inilah fitrah manusia dan manusia akan memperoleh kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Untuk menjalani fitrah ini, manusia diberikan petunjuk oleh Allah, itulah Al Qur’an. Dalam Al Qur’an ada petunjuk untuk mengenal Allah, bagaimana menyembah Allah, perintah dan larangan untuk manusia serta berbagai petunjuk dalam menjalani hidupnya yang pada intinya adalah bagaimana manusia itu dapat menjalani fitrahnya sebagai hamba dan khalifah Allah sehingga manusia dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, hendaknya setiap dari diri kita, para penuntut ilmu yang telah memilih jalan ini, dalam menuntut ilmu dilakukan sesuai dengan hakikat menuntut ilmu yang sejalan dengan fitrah kita. Dengan cara inilah kita akan memperoleh kebahagiaan dan keselamatan hidup yang didambakan oleh setiap manusia. Hal itupun dapat dicapai apabila kita menuntut ilmu dengan menggunakan tiga hal yang telah dikaruniakan oleh Allah, akal, hati dan nafsu dan hatilah yang menjadi pengontrol dan penyeimbang akal dan nafsu.

Betapa banyak fenomena yang terjadi adalah aktifitas menuntut ilmu selama ini telah banyak mengalami penyimpangan dari hakikatnya. Ketika aktifitas menuntut ilmu hanya berdasarkan akal dan nafsu semata tanpa dikontrol oleh hati maka menuntut ilmu hanya dilakukan untuk tujuan-tujuan yang sifatnya duniawi seperti untuk gelar, kedudukan, harta yang pada akhirnya manusia-manusia yang menuntut ilmu dengan cara seperti itu hanya akan mendapatkan sesuatu yang semu sebagaimana dunia ini bersifat fatamorgana belaka. Betapa banyak pula kemudian manusia-manusia ini tidak memperoleh kebahagiaan hidup yang sebenarnya baik itu di dunia apalagi akhirnya memperoleh kesengsaraan di akhirat.

Readmore »»

Tuesday, 2 February 2010

Tumbuh dan Berkembang di Atas Batu

Pernahkah Anda melihat dan mengamati akar pohon beringin (ficus). Lihatlah bagaimana bentuk dan penjalaran akar beringin. Akar beringin selalu menyesuaikan dengan bentuk dan ukuran batang dan bentuk cabangnya. Bila cabang menjulur condong ke selatan, maka akar beingin akar ikut tumbuh ke selatan. Selain itu, bentuk dan arah akar beringin berfungsi untuk menopang berat pohon bagian atas. Cengkaraman akar yang menonjol di permukaan tanah ini bukti kuat bahwa pohon beringin akan kokoh menghadapi tantangan lingkungan yang akan bisa menumbangkannya.

Hampir semua orang mengatakan, beringin mampu tumbuh di atas batu. Batu yang keras atau bukit berbatu malah menjadi tempat yang nyaman bagi beringin untuk tumbuh. Sungguh menakjubkan karena batu sama sekali bukan tempat yang cocok bagi hampir semua makhluk hidup untuk tumbuh dan berkembang biak.

Rahasia mengapa pohon beringin dapat tumbuh di atas batu adalah kemampuan akarnya mencengkram, menelusup, melunakkan dan menjadikan batu menjadi tanah. Batu yang dianggap sebagai penghambat tumbuhnya pohon, bagi beringin merupakan tantangan untuk bisa bertahan dan berkembang. Maka lihatlah betapa menakjubkan bentuk akar beringin yang menjalar dan menembus batu. Akar beringin mencari air dengan menembus celah-celah batu hingga bisa menembus bagian luar batu.

Bukit batu yang tadinya tampak gersang dan kering kerontang mulai menghijau. Lambat laun air mulai menetes dari celah-celah batu dan lumut pun mulai tumbuh. Beringin dengan akarnya yang khas telah menjadikan kawasan gunung berbatu sebagai kawasan sumber air. Luar biasa.

Sahabat, beringin mengajarkan pada manusia untuk tidak menyerah pada lingkungan yang keras, terbatas bahkan menyakitkan. Sekecil apapun peluang, modal dan penyokong hidup yang kita miliki harusnya menjadi pemicu untuk tetap tumbuh. Celah-celah kecil peluang yang ada harus kita manfaatkan sehingga mampu menembus kokohnya halangan atau rintangan hidup.

Namun, bila kesuksesan mulai berkembang dan menjulang, jangan melupakan pijakan dan cengkraman diri agar tidak tumbang oleh tantangan luar. Sebab makin membesar dan menjulang prestasi serta karir kita, terpaan ujian akan maikin keras. Maka sesuaikan berkembangnya kesuksesan kita dengan pondasi dan cengkraman iman yang juga kuat.

Maka keindahan bentuk pondasi hidup yang menjalar dan mencengkram kuat di “batu” d kita akan meneteskan manfaat berupa kejernihan “air” dan kesegaran “udara” manfaat bagi banyak orang.

By
Achmad Siddik Thoha
siddikthoha@yahoo.com
Group Facebook Komunitas Bisa
Readmore »»

Demi Masa

Detik-Detik Berharga

Pesan Pejuang Kehidupan

Assalamualaikum. Ahlan Wa Sahlan di Blog Catatan Pejuang Kehidupan. Silahkan Beri Kesan & Pesan. Terima Kasih Atas Kunjungannya

Buku Tamu

Blog Statistic

Follower Blog

Pengunjung Blog